Fish

Senin, 07 Mei 2012

PERKEMBANGAN PENYAKIT MIKOTIK PADA IKAN DI INDONESIA

Pendahuluan
Industri akukultur masih merupakan industri yang cukup menjanjikan karena selain masih menguntungkan juga masih menjadi andalan untuk mengurangi angka pengangguran.  Selain itu juga menjadi sektor andalan bagi pasokan protein yang murah bagi masyarakat, ikut andil dalam pengentasan kemiskinan, serta berperan dalam pertumbuhan sosial ekonomi masyarakat.  Tahapan budidaya yang kini dioperasikan telah sampai pada tahap intensifikasi dengan arah sebar yang cukup luas (ekstensif).  Sejalan dengan intensifikasi budidaya maka masalah penyakit pun mulai banyak terjadi.  Beberapa penyakit yang disebabkan oleh pathogen virus, bakteri, jamur dan parasit dapat menyebabkan kerugian yang cukup besar bagi pembudidaya atau penggiat usaha di bidang akuakultur.  Beberapa kejadian penyakit di indonesia antara lain White Spot Disease yang disebabkan oleh parasit Ichthyophthirius pada ikan gurame dan ikan mas pada tahun 1932 (Sachlan, 1952 dalam Bondad-Reantaso et al, 2005), infeksi Lernea cyprinea pada ikan mas dan ikan gurame yang menyerang 30% hatchery di Jawa, Sumatera Utara dan Sulawesi Utara (Djajadiredja et al, 1983), serangan Viral Nervous Necrosis (VNN) pada ikan kerapu yang menyebabkan kematian larva hingga 100% (Yuasa dan Koesharyani, 2001).

Pendiagnosaan yang tepat merupakan langka awal dalam penanganan lanjutan terhadap kejadian serangan penyakit.  Dalam melakukan pendiagnosaan terhadap suatu sampel diperlukan kecermatan seorang petugas laboratorium dalam mengidentifikasi suatu pathogen penyebab penyakit.

Definisi dan Mekanisme Kejadian Penyakit

Sakit pada ikan yaitu suatu keadaan abnormal yang ditandai dengan penurunan kemapuan ikan secara gradual dalam mempertahankan fungsi-fungsi fisiologik normal (Irianto, 2005).  Pada keadaan tersebut ikan dalam kondisi tidak seimbang fisiologisnya serta tidak mampu beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan.  Penyakit meliputi penyakit infeksi dan non infeksi.  Penyakit infeksi adalah penyakit yang disebabkan oleh virus, bakteri, fungi dan parasit, sedangkan penyakit non infeksi adalah penyakit yang disebabkan oleh jasad penyebab penyakit, sehingga tidak menyebabkan infeksi dan umumnya tidak menular.
Perkembangan dan tingkat keseriusan suatu penyakit dalam akuakultur meliputi suatu interaksi yang kompleks antara tingkat virulensi pathogen, derajat imunitas inang, kondisi fisiologis dan genetik hewan, stres dan padat tebar (Irianto, 2005).  Secara umum terdapat 3 faktor yang terkait timbulnya penyakit yaitu inang, pathogen dan eksternal.  Terjadinya penurunan kualitas diantara ketiganya akan mengakibatkan ketidakseimbangan dan dapat memicu faktor lain untuk berkembang.  Sebagai contoh, terjadinya penurunan kualitas lingkungan dapat menyebabkan iakan menjadi stres dan nafsu makan turun, akibatnya ikan menjadi rentan dan mudah terserang pathogen.

Ikan yang sakit umumnya akan menampakan gejala-gejala klinis antara lain : tingkah laku yang tidak biasanya (nafsu makan turun, lemah, berdiam diri, berenang abnormal, sering berada di permukaan kolam), tanda eksternal tubuh (perubahan warna tubuh, pembengkakan perut, kurus, sirip geripis, hemoragik, borok, insang pucat / pendarahan, banyak mukus pada insang) dan tanda internal (hemoragik di sekeliling organ dalam, oedema, pembesaran hati, pembesaran limpa dan ginjal).

Patogenesa Infeksi Mikotik

Jamur yang pathogen (pathogenik mycosis), biasanya memiliki kemampuan untuk beradaptasi agar tetap bisa hidup pada tubuh inagnya.  Untuk jenis yang biasanya menjadi penyebab penyakit harus memiliki kemampuan sebabagi berikut : (1) memasuki sel inang (2) memperbanyak diri pada jaringan inang (3) tahan terhadap mekanisme daya tahan tubuh inang (4) mampu menimbulkan kerusakan pada tubuh inang.

Beberapa faktor yang berkaitan dengan virulensi jamur adalah antara lain : kemampuan untuk tumbuh pada suhu 37oC merupakan faktor virulensi untuk jamur pathogen.  Faktor lain misalnya chitinase dan β-glucanase dari jamur Coccidioides immitis pada stadium perubahan dari miselium kepada fase infeksif juga merupakan faktor yang berkaitan dengan virulensi jamur pathogen.  Kedua jenis enzim tersebut bisa menjadi faktor virulensi apabila terjadi interaksi langsung antara inang dan pathogen.

Perkembangan Penyakit Mikotik Di Indonesia

Jamur biasanya hanya akan menyerang jaringan luar tubuh ikan yang rusak sebagai akibat luka (ulcer)  atau penyakit lain.  Jamur dapat pula menyerang telur ikan.  Selain karena luka, kehadiran jamur dapat pula disebabkan atau dipicu oleh kondisi air akuarium yang buruk, baik secara fisik maupun kimia.  Ikan-ikan berusia tua diketahui sangat rentan terhadap infeksi jamur.  Pada saat ini, dengan banyaknya fungisida (obat anti jamur), maka serangan jamur sedikit banyak akan dapat ditangani dengan lebih mudah.  Saat ini, jamur yang termasuk berbahaya dan tergolong Hama Penyakit Ikan Karantina yaitu Aphanomyces astacii.  Jamur ini menyebabkan penyakit yang sering disebut EUS (Epizootic Ulcerative Syndrome).  Namun masih jarang sekali jamur ini ditemukan.

Beberapa jamur diketahui juga menyerang bagian dalam jaringan tubuh ikan.  Icththyophonus, misalnya diketahui sebagai jamur sistemik yang menyerang ikan.  Icththyophonus dapat menginfeksi bagian organ tubuh ikan dan menimbulkan gumpalan (nodul) yang mirip seperti terjadi pada kasus TBC ikan.  Untuk serangan jamur sistemik ini belum tersedia obat yang dijual secara komersial.  Meskipun demikian, perendaman dengan Malachite Green diketahui dapat menyembuhkan serangan jamur sistemik.

Dalam determinasi penyakit jamur memang agak sulit dilakukan karena perbedaan antara spesies yang satu dengan yang lain terletak pada saat pecahnya spora. Secara garis besar identifikasi jamur melalui bentuk hifa (batang) dan sporanya. Selain itu, tumbuhnya jamur pada tubuh ikan akan muncul apabila penyakit jamur tersebut sudah parah. Hal ini menyebabkan semakin sulit mengidentifikasi penyakit jamur ikan. Solusinya adalah mengambil sampel daging maupun bagian tubuh yang luka untuk kemudian ditumbuhkan pada media agar.  Beberapa penyakit jamur yang seringkali ditemukan pada ikan adalah sebagai berikut :

a.    Saprolegniasis

Saprolegniasis merupakan  penyakit jamur yang disebabkan oleh jamur Saprolegnia. Saprolegnia merupakan genus jamur yang termasuk dalam kelas Oomycetes.  Jamur ini kerap dipakai sebagai nama umum untuk serangan jamur yang menyerupai kapas pada permukaan tubuh ikan.  Pada kenyataannya banyak genus dari Oomycetes yang dapat menyebabkan infeksi jamur pada ikan, diantaranya adalah Achlya.

Saprolegnia atau dikenal juga sebagai "water molds" dapat menyerang ikan dan juga telur ikan.  Mereka umum dijumpai pada air tawar maupun air payau.  Jamur ini dapat tumbuh pada selang suhu 0-35°C, dengan selang pertumbuhan optimal 15-30°C.  Pada umumnya, Saprolegnia akan menyerang bagian tubuh ikan yang terluka, dan selanjutnya dapat pula menyebar pada jaringan sehat lainnya. Serangan Saprolegnia biasanya berkaitan dengan kondisi kualitas air yang buruk, seperti sirkulasi air rendah, kadar oksigen terlarut rendah, atau kadar amonia tinggi, dan kadar bahan organik tinggi.  Kehadiran Saproglegnia sering pula disertai dengan kahadiran infeksi bakteri columnaris, atau parasit eksternal lainnya.

Tanda-tanda penyakit
Kehadiran Saprolegnia biasanya ditandai dengan munculnya "benda" seperti kapas, berwarna putih, terkadang dengan kombinasi kelabu dan coklat, pada kulit, sirip, insang, mata atau telur ikan.  Pengamatan di bawah mikroskop jamur ini tampak seperti sebuah pohon yang bercabang-cabang.

Pencegahan dan Perawatan
Serangan Saprolegnia dapat dihindari dengan melakukan perawatan yang baik terhadap kondisi lingkungan, terutama dengan menjaga kualitas air selalu dalam kondisi optimal, hindari pemeliharaan ikan dengan kepadatan tinggi untuk mencegah terjadinya luka, dan selalu menjaga ikan agar mendapat gizi yang memadai. Apabila gejala serangan Saprolegnia ditemukan, segera lakukan evaluasi kualitas air media dan lakukan koreksi yang diperlukan. Apabila kondisi serangan pada ikan parah, lakukan pengobatan. Selain dengan fungisida khusus ikan, perlakuan dengan PK, formalin dan povidone iodine dapat pula mengobati serangan Saprolegnia.

b.     Branchiomycosis

Branchiomyces demigrans atau "Gill Rot (busuk insang)" disebabkan oleh jamur Branchiomyces sanguinis dan Branchiomyces demigrans. Spesies jamur ini biasanya dijumpai pada ikan yang mengalami stres lingkungan, seperti pH rendah (5.8-6.5), kandungan oksigen rendah atau pertumbuhan algae yang berlebih dalam media pemeliharaan, Branchiomyces sp. tumbuh pada temperatur 14 - 35°C , pertumbuhan optimal biasanya terjadi pada selang suhu 25 - 31°C.  Penyebab utama infeksi biasanya adalah spora jamur yang terbawa air dan kotoran pada dasar kolam.

Tanda-tanda Penyakit
Branchiomyces sanguinis dan B. demigrans pada umumnya menyerang insang ikan. Ikan yang terjangkit akan menunjukkan gejala bernafas dengan tersengal-sengal dipermukaan air dan malas. Insang tampak mengeras dan berwarna pucat, khususnya pada daerah yang terjangkit.  Pengamatan dibawah mikroskop akan sangat membantu mengenali serangan jamur ini.  Apabila bagian jaringan yang terserang mati dan lepas, maka spora jamur akan ikut terbebas dan masuk kedalam air sehingga akan memungkinkan untuk menyerang ikan lainnya.

Pencegahan dan Perawatan
Usaha pencegahan merupakan cara yang sangat disarankan untuk mengontrol serangan jamur ini. Pengelolaan lingkungan yang baik akan menciptakan kondisi yang tidak disukai oleh jamur tersebut untuk tumbuh. Apabila penyakit telah terlanjur berjangkit, segera lakukan isolasi. Formalin dan Copper Sulfat diketahui dapat mencegah kematian akibat infeksi Branchiomycosis.  Kolam yang terjangkit hendaknya segera dikuras, dan dikeringkan serta lakukan tindakan sterilisasi dan berikan perlakuan dengan kalsium oksida.

c. Icthyophonus

Icthyophonus disebabkan oleh jamur Icthyophonus hoferi. Jamur ini tumbuh baik pada air tawar maupun air asin (laut).  Meskipun demikian, biasanya serangan jamur ini hanya akan terjadi pada air dingin 2 - 20°C.  Penyebaran Icthyophonus berlangsung melalu kista yang terbawa kotoran ikan atau akibat kanibalisme terhadap ikan yang terjangkit

Tanda-tanda penyakit
Sebaran penyakit biasanya berlangsung melalui pencernaan, yaitu melalui spora yang termakan. Oleh karena itu, ikan yang terserang ringan sampai sedang biasanya tidak menunjukkan gejala penyakit.  Pada kasus serangan berat, kulit ikan tampak berubah kasar seperti amplas.  Hal ini disebabkan terjadinya infeksi dibagian bawah kulit dan jaringan otot.  Ikan dapat pula menunjukkan gejala pembengkokan tulang. Bagian dalam ikan akan pada umumnya tampak membengkak disertai dengan luka-luka berwarna kelabu-putih.

Pencegahan dan Perawatan
Tidak ada pengobatan yang bisa dilakukan terhadap penyakit ini, ikan biasanya akan menjadi carrier sepanjang hidupnya. Pencegahan adalah satu-satunya cara untuk menghindari serangan penyakit  Icthyophonus.  Pencegahan dapat dilakukan dengan tidak memberikan ikan mentah atau produk ikan mentah pada ikan, kecuali diyakini bahwa pakan ini terbebas dari Icthyophonus hoferi.  Memasak terlebih dahulu pakan tersebut dapat membantu menghilangkan jamur infektif yang terkandung.  Apabila Icthyophonus ditemukan pada ikan, maka segera musnahkan ikan tersebut.  Selanjutnya lakukan sterilisasi pada kolam yang bersangkutan, termasuk filter dan peralatan lainnya.  Apabila kolam memiliki dasar pasir atau lumpur maka diperlukan pengeringan kolam selama berbulan-bulan untuk menghilangkan jamur tersebut.

d.  Cendawan pada larva udang (larval shrimp mycosis)

Larval shrimp mycosis disebab oleh jamur Lagenidium spp. dan Sirolpidium spp.  Infeksi Lagenidium spp. umumnya terjadi pada stadia nauplius, zoea hingga mysis. Apabila menyerang pada stadia zoea sering menyebabkan kematian masal di panti benih (hatchery).  Sedangkan infeksi Sirolpidium spp. lebih sering terjadi pada stadia mysis hingga Post Larvae (PL) awal. Kedua jenis cendawan ini tumbuh optimal pada kisaran suhu air antara 25-34oC dan kisaran pH 7-9. Penyakit ini umumnya merupakan kompleks infeksi bersama patogen lainnya, dan mortalitas yang terjadi terutama karena gangguan terhadap proses ganti kulit (moulting).

Tanda-tanda penyakit
Larva udang yang terserang penyakit ini menjadikan nafsu makan menurun, pergerakan lemah, dan anemia. Pada tubuh larva udang (nauplius, zoea, mysis, PL) terlihat adanya hifa dan/atau miselia cendawan. Pada kondisi yang serius, sering dijumpai tubuh larva udang terlilit dan dipenuhi oleh cendawan. Pengamatan secara mikroskopis, pada bagian eksternal terlihat adanya hifa dan atau miselia cendawan. Isolasi pada media semi solid (agar), dan diidenfikasi secara morfometris.

Pencegahan dan Perawatan
Desinfeksi bak dan air sebelum digunakan dapat dilakukan untuk mencegah serangan penyakit ini.  Menghindari penumpukan bahan organik dalam media pemeliharaan melalui penyiponan secara berkala.  Hifa dan spora cendawan ini dapat diberantas dengan perendaman desinfektan, antara lain : Larutan Trefflan pada dosis 0,1 ppm selama 24 jam atau lebih untuk tujuan desinfeksi, Larutan Trefflan pada dosis 0,2 ppm selama 24 jam atau lebih untuk tujuan pengobatan, Perendaman formalin 10-25 ppm selama 24 jam.

e.  Fusariosis

Fusarium spp. merupakan jamur yang bertanggungjawab atas penyakit fusariosis ini.  Penyakit ini menginfeksi udang di tambak pada stadia juvenil hingga ukuran dewasa.  Prevalensi infeksi lebih tinggi pada lahan tambak yang persiapannya kurang baik, terutama pembuangan bahan organik dan pengeringan yang kurang sempurna.  Pada infeksi akut, hifa cendawan ditemukan pula pada bagian tubuh lainnya.  Mortalitas yang terjadi terutama karena gangguan terhadap proses ganti kulit (moulting). 

Tanda-tanda penyakit
Jamur ini cenderung menginfeksi pada bagian insang, menimbulkan inflamasi yang intensif hingga terjadi melanisasi sehingga insang berwarna hitam (sering disebut penyakit insang hitam/black gill disease).  Organ lain seperti kaki jalan dan renang serta ekor udang mengalami kerusakan, bahkan terputus.   Pada bagian tubuh lain sering ditemukan adanya luka atau gejala seperti terbakar, dll.
Pengamatan secara mikroskopis, terutama pada organ insang ditemukan adanya makrokonidia cendawan. Isolasi pada media semi solid (agar), dan diidenfikasi secara morfometris.

Pencegahan dan Perawatan
Pencegahan untuk penyakit ini dapat dilakukan dengan mempersiapkan petak tambak secara sempurna, terutama pembuangan bahan organik dan pengeringan dasar tambak.  Menghindari penumpukan bahan organik dalam media pemeliharaan, melalui penggunaan mikroba esensial atau probiotik dan/atau frekuensi penggantian air yang lebih tinggi. Penggunaan bahan kimia/desinfektan di tambak tidak efisien.


Anti Jamur (Fungisida)

Berbagai produk anti jamur untuk akurium relatif banyak ditemukan di toko-toko akuarium.  Pada umumnya produk ini merupakan produk untuk pengobatan dengan perlakuan perendaman dalam jangka panjang.  Beberapa anti jamur tersebut juga dapat digunakan untuk mencegah serangan jamur pada telur ikan.  Beberapa anti jamur yang mengandung phenoxyethanold apat pula digunakan untuk mengobati infeksi bakteri eksternal.  

Metil biru merupakan salah satu bahan kimia yang umum digunakan sebagai anti jamur.  Selain itu, garam juga diketahui  efektif dalam mengobati akibat serangan jamur.  Gentian Violet diketahui sangat membantu dalam mengatasi serangan jamur melalui pengobatan lokal di daerah yang terinfeksi jamur ringan.

Penggunaan anti jamur sebagai kuratif rutin, atau sebagai profilaktik sebaiknya dihindarkan.  Penggunaan anti jamur dalam jangka panjang dan secara terus menerus dapat menimbulkan efek yang berbahaya.  Olah karena itu, penggunaan anti jamur ini untuk hal-hal yang tidak perlu atau  hal-hal yang sebenarnya dapat dihindari sebaiknya tidak dilakukan.


PUSTAKA

Bondan-Reantaso, M.G., McGladdery, S.E., East, I., and Subasinghe., R.P. (eds).2001. Asia diagnositic guide to aquatic animal disease.  FAO Fisheries Technical Paper No. 42. Supplement 2. Roma. FAO.

Djajadiredja, R., Panjaitan, T.H., Rukyani, A. Sarono, A., Satyani, D., Supriyadi, H. 1983. Country Reports : Indonesia.  Fish quarantine and fish diseases in Southeast Asia.  International Development Research Center Publication.

Irianto, Agus. 2005.  Patologi Ikan Teleostei.  Gadjah Mada University Press.

Koesharyani, I., Des Roza., Mahardika K., Johnny, F., Zafran dan Yuasa, K.  2001.  Penuntun Diagnosa Penyakit Ikan-II. Penyakit Ikan Laut dan Crustace di Indonesia.  Balai Penelitian Perikanan Laut Gondol dan JICA.

Noga, Edward J. 2000.  Fish Disease : Diagnosis and Treatment.  Iowa State University Press.
Yuasa, K. Dan Koesharyani, I.  2001.  Present Situation of Occurrence of Viral Nervous Necrosis (VNN) in Indonesia Grouper Hatchereis and Control Measures for VNN.  Report and Proceeding of APEC FWG Project02/2002.

Zafran, Des Roza, Koesharyani, I., Johnny, F and Yuasa, K. 1998.  Manual for Fish Diseases Diagnosis.  Marine fish Crustacean Diseases in Indonesia.  Gondol Research Station for Coastal Fisheries and JICA.